jempolfacebook.wordpress.com

Home » Mistik » Apakah Ilmu Hikmah Mengarah Ke Kemusrikan

Apakah Ilmu Hikmah Mengarah Ke Kemusrikan

PENGUMUMAN

WARNING !!!!
Warning Website ini telah rusak,kami tidak dapat lagi menambahkan artikel di blog ini,untuk kenyamanan anda lihat website baru kami ke !!!!

Sini !!!

mohon maaf atas ketidaknyamanannyaannya

Ads By : Forumbagus

RSS Tulisan Terbaik

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

TANYA
Assalamu’alaikum wr wb. Ki Wongalus, saya pernah
mendengar dari seorang penceramah bahwa
mengamalkan ijazahan sebuah asmak/hizib dari
seorang guru termasuk ijazahan yang ada di blog KWA
ini ternyata condong pada kemusyrikan. Banyak orang
bilang, ilmu yang saya pelajari tersebut termasuk ilmu
hikmah. Saya mohon berkenan memberikan penjelasan.
Wassalamu’alaikum wr wb.
(Adi, Jakarta)
JAWAB.
Wa’alaikumsalam wr wb. Setiap manusia diperintahkan taat
kepada Allah dan Rasulullah Muhammad SAW. Dengan taat
kepada Allah dan Rasul-Nya, jelas kita akan memperoleh pahala
yang bisa menjadi lantaran memperoleh rahmat Allah, yang
antara lain berupa surga. Artinya, jika kita ber’itikad atau
meyakini bahwa yang memasukkan kita ke surga adalah
rahmat Allah yang kita peroleh dengan beramal soleh, ya
boleh-boleh saja. Namun jika kita meyakini bahwa yang
memasukkan kita ke surga adalah pahala dan amal shaleh kita
itu termasuk syirik.
Begitu juga dengan rangkaian doa dalam ilmu hikmah, seperti
hizib atau asma yang disusun oleh para ulama yang biasanya
diawali lafadz “Allahumma, Ya Allah…” jika kita meyakini
bahwa doa-doa ilmu hikmah hanyalah sarana untuk
memohon kepada Allah SWT sebagai satu-satunya Dzat yang
bisa memberi dan menolong, tentu tidak ada masalah. Namun
jika kita meyakini bahwa doa itulah yang mendatangkan
kekayaan atau membuat selamat, perbuatan kita tersebut
termasuk syirik.
Kita perlu berhati-hati, tidak mudah mengatakan perbuatan ini
syirik, perbuatan itu musyrik. Karena syirik itu letaknya di hati,
yang tidak diketahui oleh orang tersebut dan Allah.
Tidak usah jauh-jauh tentang ilmu hikmah, meyakini bahwa
seseorang meninggal dunia karena terkena penyakitpun sudah
syirik. Sebab, kematian apapun penyebabnya, adalah ketetapan
Allah Ta’ala atas setiap mahluk-Nya yang bernyawa. Jika Allah
menghendaki seseorang mati, baik ada penyakit maupun tidak,
pasti orang itu akan mati. Maka jika ada yang meyakini bahwa
penyakit bisa membawa kematian, atau kesehatan bisa
memperpanjang usia, itu juga bisa digolongkan sebagai syirik.
Kepada saudara Adi, saya sarankan bila memang asmak/hizib/
awrad dalam ilmu hikmah yang anda amalkan bisa menjadi
sarana mendekatkan diri kepada Allah dan Rasul-Nya serta
dengan efeknya bisa turut membela agama dan sesama
muslim, silahkan teruskan. Yang penting jaga i’tiqad baik-baik
agar tidak tersusupi kemusyrikan.
Untuk menuju kepada Allah SWT, kita memerlukan TAUHID
yang murni. Berikut beberapa ”Penjara” dimana seseorang
harus bisa membebaskan diri ketika harus berhadapan dengan
Allah SWT.
Yang pertama membebaskan diri daripada penjara alam jasad:
Penjara alam jasad adalah hawa nafsu. Di dalam penjara ini
tersedia banyak hidangan yang lezat-lezat, seperti kekuasaan,
kemuliaan, puji-pujian, tamak, loba, dengki, khianat dan
sebagainya. Jika mau bebas daripada penjara ini perlulah
menjauhkan diri daripada perkara yang tidak baik itu, perkara-
perkara itu menjadi penghalang.
Penjara kedua adalah dunia: Penjara ini mengandung berbagai
keindahan dan keseronokan yang menjanjikan keabadian yang
palsu kepada salik. Penjara ini menghidangkan berbagai jenis
nikmat yang seronok dan menggairahkan. Dengan lain kata
inilah yang dikatakan penjara syahwat. Jikalau salik lalai dan
panjang angan-angan, maka nampaknya tidak ada
kemungkinan salik itu dapat bebas daripada penjara ini.
Penjara ketiga adalah akhirat. Nampaknya hidangan-hidangan
yang disediakan dalam penjara ini lebih enak daripada penjara
dunia, di sini hidangannya adalah pahala, syurga dan bidadari
yang cantik lagi menggoda. Rantai yang membelenggu dalam
penjara ini adalah kehendak dan keinginan diri sendiri.
Menganggap diri sendirilah yang melakukan segala sesuatu
sama ada baik atau buruk….Bagaimanapun, kendaraan yang
dapat membebaskan salik daripada penjara ini adalah ilmu,
yaitu salik tidak memandang kepada perbuatannya tetapi
adalah anugerah daripada Alloh SWT.
Penjara keempat adalah alam malaikat. Inilah penjara alam
wujud yang terakhir. Hidangan yang terdapat dalam penjara
ini adalah mendapatkan keramatan keampuhan dan kemuliaan
di sisi Mahluk. Rantai yang membelenggu salik dalam penjara
alam malaikat ini adalah sisa-sisa kehendak diri sendiri dan
kesadaran tentang diri sendiri, Yaitu segala yang dilakukan
adalah atas daya diri sendiri bukan karunia dari Alloh
SWT.Untuk keluar dari penjara ini perlulah menghapuskan
segala kehendak, keinginan, cita-cita dan angan-angan dengan
menyadari bahwa salik adalah kosong, yang ada hanyalah
Alloh semata-mata.
Penjara kelima adalah ilmu Allah SWT. Ilmu Allah SWT
bukanlah alam namun tidak keluar dari alam, sebagaimana
empat penjara yang sebelumnya, yang mana penjara-penjara
tersebut adalah alam ciptaan Penciptanya. Ilmu Alloh adalah
sesuatu yang bersangkutan dengan hal-hal keILAHIYAHAan itu
sendiri.Hidangan yang terdapat dalam penjara ilmu ini adalah
rahasia-rahasia yang ghoib-ghaib tentang hukum-hukum Alloh
SWT. Dalam hal ilmu Allah ini, salik dapat melihat pengaturan
Allah yang menggerakkan alam dan semua kejadian yang
berlaku di dalamnya. Ilmu Allah sangat luas dan tidak Ada
persamaanNya.Salik yang asyik dengan ilmu Allah akan
terpenjara di dalamnya buat selama-lamanya.
Penjara keenam adalah makrifatullah. Ini adalah penjara yang
paling kuat dan sangat sulit untuk di lepas maka kita perlu
berhati-hati, ilmu Allah dan makrifatullah bukanlah alam, tetapi
HAQ yang berkaitan dengan hal-hal keilahian-Nya sendiri,
hidangan yang terdapat di sini adalah hakikat-hakikat alam
semesta akan tampak nyata jauh dekat sama, hal-hal yang
rahasia-rahasia berkaitan keilahian itu janganlah di sampaikan
ke orang yang belum sampai ke pemahaman tersebut.
Salah satu upaya untuk membebaskan diri dari Penjara di atas
maka ada cara/jalan menuju Allah SWT yang disebut tarikat/
tarikat. Tarikat adalah teman kembar dari syariat. Semua tarikat
yang mu’tabarah ada gurunya masing-masing dan
mempunyai sumber yang sama, yaitu Baginda Nabi SAW,
melalui jalur beberapa sahabat, diantaranya Sayyidina Abu
Bakar Ash Shiddiq RA, Umar Bin Khattab RA, Ali Bin Abi Thalib
RA, Anas RA, Salman Al Farisi RA.
Rasulullah SAW mengajarkan agar kita suka berdzikir dan
bermacam-macam cara berdzikir dilakukan sejak sahabat
Rasulullah SAW sesuai dengan kemampuan mereka. Misalkan
ada yang mampu berdzikir dalam hitungan puluhan, maka
disediakan pintunya. sedangkan bagi yang mampu hingga
hitungan ribuan, juga disediakan pintunya. Tapi semua dzikir
itu berdasarkan ayat: ala bidzikrillahi tatmainul qulub yang
artinya berdzikir itu akan menenangkan hati, dan firman Allah
SWT yang memerintahkan kita untuk memperbanyak dzikir.
Sementara inti dari dzikir-dzikir tersebut sama yaitu supaya
tidak lupa/lalai kepada Allah SWT dan mendekat sedekat
dekatnya kepada Ilahi.
Inti dari semua tarikat tersebut adalah dzikir kesaksian yaitu
LAA ILAAHA ILALLAH MUHAMMADUR RASULULLAH dan dzikir
sirrnya yaitu ALLAH, ALLAH, ALLAH atau HU, HU, HU,(Dia, Dia,
Dia) serta dzikir lain yang terkait dengan mentauhidkan Allah
SWT.
Dzikir dalam tarikat tersebut sejatinya bukan bacaan untuk
mencari pahala, tetapi meraih buahnya, yaitu selalu mengingat
Allah SWT. Buah ini akan mewarnai kehidupan individu atau
pribadi yang menjalankan tarikat tersebut. Perumpamaan ini
bukan berarti membandingkan kalimah Laa Ilahailallah dengan
dunia, melainkan untuk memahami, seseorang yang
mempunyai cincin yang dihiasi batu permata yang tiada ternilai
harganya, maka cincin itu akan dijaganya baik-baik. Ketika
hendak makan saja, cincin itu disimpannya dikantong khusus
agar tidak kotor atau terjatuh.
Itu baru batu. Lalu bagaimana dengan kalimah LAA
ILAHAILALLAH MUHAMMMADUR RASULULLAH, yang nilainya
tidak bisa kita takar seperti cincin bertahtakan batu permata
tersebut? Kalimat tahlil ini mesti mengiringi dan mewarnai saat
kita makan. Maksudnya, nasi yang kita makan sekedar sebagai
sarana mencari kenyang, sementara yang memberikan rasa
kenyang hanyalah Allah SWT. Jadi kita akan selalu ingat bahwa
tiada dzat yang yang wajib disembah kecuali Allah SWT. Dan
kita juga akan selalu ingat akan perintah dan larangan-Nya.
Kita akan selalu merasa didengar dan dilihat oleh Allah SWT.
Dan bila sudah demikian mungkinkah kita akan banyak
melakukan hal yang tidak disukai Allah SWT dan RasulNya?
Tentu saja tidak. Ketika kita menjalankan perintah dan menjauhi
larangan-Nya pun kita kembalikan kepada Allah SWT. sehingga
muncullah keikhlasan dalam setiap perilaku kita. Inilah tarikat.
Jadi bukan hanya untuk mencari pahala, atau pendekatan diri
kepada Allah SWT diwaktu mengamalkan. Akan tetapi
mampukah kita membawa buah dari kalimah tahlil ini dalam
kehidupan sehari-hari.
Keistimewaan kalimah tahlil dalam setiap tarikat itu berbeda-
beda. seperti keistimewaan tumbuh-tumbuhan yang
diciptakan Allah SWT. Misalnya daun kumis kucing berkhasiat
bagi orang yang kena penyakit kencing manis. Ada juga daun
delima, atau daun keci beling dan sebagainya. Tumbuhan itu di
beri kelebihan masing-masing oleh Allah SWT.
Begitu juga dengan kalimat tahlil dalam setiap tarikat. Kalimah
ini bak lautan yang tak bertepi. Walau keistimewaanya dibagi-
bagi kepada Tarikat Syadzaliyah, Qadiriyah, Maulawiyah dan
sebagainya tak kan pernah habis. Justru kita akan melihat
keagungan ilmu Allah SWT yang ditunjukan kepada kita.
Karena itu yang penting bagi kita adalah bagaimana kita belajar
salah satu tarikat yang sekiranya mampu diamalkan dan
menjalankan ajarannya secara istiqamah.
Tarikat-Tarikat yang dipegang oleh para Awliya seperti Syekh
Abdul Qadir Al Jilani, Syekh Abu Hlani, Syekh Abu Hasan Asy
Syadzili, Sayiid Ahmad Ar Rifa’i, Syaikh Ahmad Al Badawi,
Syekh Ibrahim Ad Dasuki dan tokoh-tokoh ulama yang lain
tidak mungkin akan menyesatkan dengan ajarannya. Sebab,
dipundak mereka ini terdapat amanah Rasulullah SAW.
Bukankah mereka itu waratsatul anbiya? Karena itu pula kita
yakin, para ulama itu yang takutnya hanya kepada Allah SWT
tidak akan menyesatkan kita. Jadi jelaslah bahwa tarikat yang
bersumber dari para awliya tersebut tidak akan lepas dari Al
Qur’an dan sunnah Nabi SAW. Wallahua’lam ulasan yang
serba terbatas ini semoga ada manfaatnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s