jempolfacebook.wordpress.com

Home »

Puasa Patigeni

PENGUMUMAN

WARNING !!!!
Warning Website ini telah rusak,kami tidak dapat lagi menambahkan artikel di blog ini,untuk kenyamanan anda lihat website baru kami ke !!!!

Sini !!!

mohon maaf atas ketidaknyamanannyaannya

Ads By : Forumbagus

RSS Tulisan Terbaik

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Niat ingsun patigeni
Asirep rapet maring geni lan sinar
Aku bali maring pepeteng
Kadyo purwaning dumadi mring alam luwung
Sajroning guwo garbaning sang ibu
Sedulur papat limo pancer
Tumekaning sang jabang bayine
kakang kawah adi ari-ari,
kiblat papat limo pancer
Nyawiji mring ngarsane Gusti
Niatku patigeni
Rapal di atas adalah rapal untuk memulai laku patigeni. Patigeni
adalah laku untuk mendapatkan petunjuk dan hidayah dari
Allah SWT sebagaimana yang dijalani oleh para leluhur di
tanah Jawa, dan dijalani langsung oleh Sunan Kalijaga.
Kenapa harus patigeni? Dalam hidup kita, terkadang kita
merenungkan apakah perjalanan hidup yang kita jalani ini
sudah sesuai dengan karep/kehendak-Nya. Atau justeru
sebaliknya, kita merasa bahwa selama ini kita menjalani hidup
atas dasar kehendak kita sendiri. Kita seperti terlempar ke dunia
tanpa pegangan hidup yang pasti.
Agama yang telah kita anut semenjak kecil pun terasa hampa
karena hanya dipahami dari segi syariat, aturan, hukum yang
terasa kehilangan “jiwa” atau “ruh” agama. Agama (dalam
pemahaman kita yang sempit) kadang juga kita rasakan tidak
mampu menyediakan jawaban-jawaban bagi masalah hidup
sehari-hari yang semakin kompleks. Mental kita sudah tidak
bersih lagi. Jalur ruhani kita sudah tidak terhubung dengan jalur
ruhani alam semesta. Hidup kita terasa mengambang dan
sesak oleh nafsu dan angkara murka.
Untuk mengembalikan jati diri kita sebagai makhluk yang
religius, selaras dan serasi dengan dunia batin dan dunia lahir,
atau alam semesta metafisik dan fisik sehingga nanti kita
mendapatkan anugerah dari Tuhan berupa rasa dekat, rasa
tenang, tenteram, sumeleh dan sumarah, polos, jujur, apa
adanya serta bebas dari belenggu problem yang menghimpit
maka para leluhur menyarankan agar kita melakoni PATIGENI.
Yaitu laku/amalan tidak menggunakan “geni” atau api selama
tiga hari.
Laku PATIGENI memiliki falsafah yang sangat mendalam. Yaitu
mematikan unsur API di dalam tubuh metafisik/psikis/badan
astral dan fisik kita. Unsur API adalah unsur Iblis yang
membawa manusia pada nafsu-nafsu negatif seperti AMARAH,
BENCI, IRI, DENGKI, INGIN MEMILIKI DAN MENGUASAI,
MENGALAHKAN, MENAKLUKKAN, bahkan MEMBUNUH. Unsur
API yang tidak bisa dikendalikan oleh manusia akan
mengakibatkan dia masuk ke dalam NAAR (NERAKA).
Laku patigeni lebih terasa khusyuk dan meditatif kalau kita
lakukan di tempat-tempat yang sunyi dan sepi. Misalnya di
dalam gua yang benar-benar gelap tidak ada cahaya yang
masuk. Atau di dalam kamar yang sangat gelap hingga tidak
ada cahaya yang menerobos ke dalamnya. Sebelum
melakukan patigeni, kita diminta untuk mandi hingga bersih
dan memakai pakaian yang bersih. Akan lebih baik bila kita
mandi dengan air kembang setaman dan ditambah dengan
wewangian yang semerbak. Niat juga ditata untuk melakukan
pembersihan diri.
Selanjutnya, mulai untuk memasuki kamar atau gua yang telah
dipilih sebelumnya. Seluruh lampu/cahaya yang masih ada
dimatikan. Kita berada di dalam gelap seperti di alam suwung
dan tidak melakukan aktivitas apapun selama tiga hari tiga
malam. Tidak makan dan tidak minum. Posisi badan duduk
semedi, kalau capek bisa bersandar atau dalam posisi
berbaring.
Selanjutnya bacalah rapal yang ada di awal kalimat tadi…..
Fokus pikiran hanya tertuju pada Tuhan Yang Maha Esa.
Mengamati jalan masuk dan keluarnya nafas. Saat menarik
nafas katakan Hu dalam hati.. saat mengeluarkan nafas
mengatakan Allah.
Tiga hari tiga malam, misalnya dimulai pada jam 00.00 WIB
dan tiga hari kemudian tepat pukul 00.00 WIB laku itu
dihentikan. Selama itu, kita hanya manembah kepada Gusti
Allah. Tidak berkomunikasi dengan siapapun kecuali dengan
DIRI SEJATI yang terletak di dalam lapisan diri yang paling
dalam. Di sanalah nanti kita nanti akan merasakan PANCARAN
DIRI TUHAN KE DALAM DIRI MANUSIA.
Apabila dilakukan dengan ikhlas, pasrah dan sumeleh tidak
mengharapkan atau mentargetkan apa-apa, maka kita akan
benar-benar merasakan seluruh diri kita adalah bagian dari
eksistensi Gusti Allah. Petunjuk-Nya yang jelas akan kita
dapatkan sehingga kita mampu selalu BERKOMUNIKASI
dengan-Nya dimanapun kita berada.
Inilah MODAL TERBESAR hidup manusia, yaitu YAKIN YANG
SEYAKIN YAKINNYA BAHWA DIRI KITA SELALU
MENDAPATKAN PEMBELAJARAN DARI GURU SEJATI (TUHAN)
SECARA LANGSUNG. Dan setelah laku patigeni selesai, kita akan
merasakan momentum saat kita terlahir kembali ke dunia ini.
Suci seperti bayi yang baru saja dilahirkan dari rahim ibu ke
rahim alam semesta.asNiat ingsun patigeni
Asirep rapet maring geni lan sinar
Aku bali maring pepeteng
Kadyo purwaning dumadi mring alam luwung
Sajroning guwo garbaning sang ibu
Sedulur papat limo pancer
Tumekaning sang jabang bayine
kakang kawah adi ari-ari,
kiblat papat limo pancer
Nyawiji mring ngarsane Gusti
Niatku patigeni
Rapal di atas adalah rapal untuk memulai laku patigeni. Patigeni
adalah laku untuk mendapatkan petunjuk dan hidayah dari
Allah SWT sebagaimana yang dijalani oleh para leluhur di
tanah Jawa, dan dijalani langsung oleh Sunan Kalijaga.
Kenapa harus patigeni? Dalam hidup kita, terkadang kita
merenungkan apakah perjalanan hidup yang kita jalani ini
sudah sesuai dengan karep/kehendak-Nya. Atau justeru
sebaliknya, kita merasa bahwa selama ini kita menjalani hidup
atas dasar kehendak kita sendiri. Kita seperti terlempar ke dunia
tanpa pegangan hidup yang pasti.
Agama yang telah kita anut semenjak kecil pun terasa hampa
karena hanya dipahami dari segi syariat, aturan, hukum yang
terasa kehilangan “jiwa” atau “ruh” agama. Agama (dalam
pemahaman kita yang sempit) kadang juga kita rasakan tidak
mampu menyediakan jawaban-jawaban bagi masalah hidup
sehari-hari yang semakin kompleks. Mental kita sudah tidak
bersih lagi. Jalur ruhani kita sudah tidak terhubung dengan jalur
ruhani alam semesta. Hidup kita terasa mengambang dan
sesak oleh nafsu dan angkara murka.
Untuk mengembalikan jati diri kita sebagai makhluk yang
religius, selaras dan serasi dengan dunia batin dan dunia lahir,
atau alam semesta metafisik dan fisik sehingga nanti kita
mendapatkan anugerah dari Tuhan berupa rasa dekat, rasa
tenang, tenteram, sumeleh dan sumarah, polos, jujur, apa
adanya serta bebas dari belenggu problem yang menghimpit
maka para leluhur menyarankan agar kita melakoni PATIGENI.
Yaitu laku/amalan tidak menggunakan “geni” atau api selama
tiga hari.
Laku PATIGENI memiliki falsafah yang sangat mendalam. Yaitu
mematikan unsur API di dalam tubuh metafisik/psikis/badan
astral dan fisik kita. Unsur API adalah unsur Iblis yang
membawa manusia pada nafsu-nafsu negatif seperti AMARAH,
BENCI, IRI, DENGKI, INGIN MEMILIKI DAN MENGUASAI,
MENGALAHKAN, MENAKLUKKAN, bahkan MEMBUNUH. Unsur
API yang tidak bisa dikendalikan oleh manusia akan
mengakibatkan dia masuk ke dalam NAAR (NERAKA).
Laku patigeni lebih terasa khusyuk dan meditatif kalau kita
lakukan di tempat-tempat yang sunyi dan sepi. Misalnya di
dalam gua yang benar-benar gelap tidak ada cahaya yang
masuk. Atau di dalam kamar yang sangat gelap hingga tidak
ada cahaya yang menerobos ke dalamnya. Sebelum
melakukan patigeni, kita diminta untuk mandi hingga bersih
dan memakai pakaian yang bersih. Akan lebih baik bila kita
mandi dengan air kembang setaman dan ditambah dengan
wewangian yang semerbak. Niat juga ditata untuk melakukan
pembersihan diri.
Selanjutnya, mulai untuk memasuki kamar atau gua yang telah
dipilih sebelumnya. Seluruh lampu/cahaya yang masih ada
dimatikan. Kita berada di dalam gelap seperti di alam suwung
dan tidak melakukan aktivitas apapun selama tiga hari tiga
malam. Tidak makan dan tidak minum. Posisi badan duduk
semedi, kalau capek bisa bersandar atau dalam posisi
berbaring.
Selanjutnya bacalah rapal yang ada di awal kalimat tadi…..
Fokus pikiran hanya tertuju pada Tuhan Yang Maha Esa.
Mengamati jalan masuk dan keluarnya nafas. Saat menarik
nafas katakan Hu dalam hati.. saat mengeluarkan nafas
mengatakan Allah.
Tiga hari tiga malam, misalnya dimulai pada jam 00.00 WIB
dan tiga hari kemudian tepat pukul 00.00 WIB laku itu
dihentikan. Selama itu, kita hanya manembah kepada Gusti
Allah. Tidak berkomunikasi dengan siapapun kecuali dengan
DIRI SEJATI yang terletak di dalam lapisan diri yang paling
dalam. Di sanalah nanti kita nanti akan merasakan PANCARAN
DIRI TUHAN KE DALAM DIRI MANUSIA.
Apabila dilakukan dengan ikhlas, pasrah dan sumeleh tidak
mengharapkan atau mentargetkan apa-apa, maka kita akan
benar-benar merasakan seluruh diri kita adalah bagian dari
eksistensi Gusti Allah. Petunjuk-Nya yang jelas akan kita
dapatkan sehingga kita mampu selalu BERKOMUNIKASI
dengan-Nya dimanapun kita berada.
Inilah MODAL TERBESAR hidup manusia, yaitu YAKIN YANG
SEYAKIN YAKINNYA BAHWA DIRI KITA SELALU
MENDAPATKAN PEMBELAJARAN DARI GURU SEJATI (TUHAN)
SECARA LANGSUNG. Dan setelah laku patigeni selesai, kita akan
merasakan momentum saat kita terlahir kembali ke dunia ini.
Suci seperti bayi yang baru saja dilahirkan dari rahim ibu ke
rahim alam semesta


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s