jempolfacebook.wordpress.com

Home »

Ajian Waringin Sungsang

PENGUMUMAN

WARNING !!!!
Warning Website ini telah rusak,kami tidak dapat lagi menambahkan artikel di blog ini,untuk kenyamanan anda lihat website baru kami ke !!!!

Sini !!!

mohon maaf atas ketidaknyamanannyaannya

Ads By : Forumbagus

RSS Tulisan Terbaik

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Ajian Waringin Sungsang ini merupakan salah satu
“puncak ilmu” kejadukan/ kanoman/ kanuragan yang
dimiliki oleh para pendekar digdaya masa lalu.

Ajian Waringin Sungsang memiliki efek yang sangat
mematikan.

Siapa yang diserang ajian ini akan terserap energi
kesaktiannya dan mengalami lumpuh hingga akhirnya roboh
tidak berdaya.

Dan dengan memiliki ajian ini muncul energi
pertahanan kekuatan tubuh yang sangat hebat.

Maka, para
pendekar yang memiliki Ajian Waringin Sungsang ini bisa
dipastikan akan disegani kawan sesama pendekar maupun
musuh.

Ajian Waringin Sungsang diciptakan oleh Sunan Kalijaga.

Dia
juga menciptakan banyak ilmu kedigdayaan lain seperti aji
lembu sekilan dan lainnya.

Kenapa Sunan Kalijaga menciptakan
ilmu kedigdayaan yang begitu banyak?

Salah satu alasan logisnya yaitu pada masa itu banyak
kejahatan dari golongan pendekar yang beraliran ilmu hitam
dan banyaknya ahli sihir yang mempraktekkan ilmu-ilmu sihir
yang menggunakan kekuatan buruk.

Mereka berkuasa dan
ditakuti oleh masyarakat awam.

Untuk menaklukkan kalangan pendekar berilmu hitam dan
meyakinkan kepada masyarakat umum bahwa sumber
kekuatan ilmu kanuragan tetap dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Ini terlihat dari rapal-rapal ilmu kedigdayaan ciptaan Sunan
Kalijaga selalu bernuansa religius dan menyertakan “nama”
Tuhan.

Ajian Waringin Sungsang memiliki falsafah yang mendalam.

Waringin Sungsang berarti pohon beringin yang terbalik
dimana akarnya berada di atas, seperti pohon kalpataru.

Pohon
waringin sungsang ini bermakna sumber kehidupan segala
yang ada, sumber kebahagiaan, keagungan, serta sumber asal
mula kejadian.

Maka pohon ini juga disebut pohon purwaning
dumadi atau pohon sangkan paran.

Di dalam waringin sungsang, juga terdapat ular yang melilit
pohon tersebut. Ini melambangkan jasmani dan rohani yang
telah menyatu dalam perilaku. Maka, seorang pendekar pemilik
ilmu waringin sungsang ini adalah orang yang sudah
manunggal atau menyatu kehendak lahir dan kehendak
batinnya. Ilmu ini hanya dimiliki oleh para pendekar sepuh atau
‘tua’ sehingga tidak digunakan sembarangan karena efeknya
yang melumpuhkan.

Pohon berasal dari kayu atau kayon, berasal dari bahasa Arab
‘khayyu’ yang artinya hidup. Dalam ilmu kalam ‘khayyu’ hanya
merupakan sifat sejatinya Tuhan.

Di dalam Al Quran
dinyatakan; “Allahu la illaha illa huwal hayyu qayyum” yang
artinya Tidak ada Tuhan melainkan Dia, yang hidup kekal lagi
terus menerus mengurus makhluknya. (QS, 2, 255).

Karena begitu tingginya falsafah yang terkandung dalam ajian
Waringin Sungsang ini, maka hanya kepada para pendekar
yang sudah “menyelesaikan” urusan diri sendirilah ilmu ajian
ini boleh diwariskan.

Ajian Waringin Sungsang dirapalkan sebagai berikut:

Sun amatek ajiku Waringin Sungsang
wayahipun tumuruna, ngaubi awak mami, tur tinuting
bala, pinacak suji kembar, pipitu jajar maripit, asri yen
siyang, angker kalane wengi.
Duk samana akempal kumpuling rasa, netraku dadi
dingin, netra ningsun emas, puputihe mutyara, ireng-
ireng wesi manik, ceploking netra, waliker uda ratih.
Idep ingsun kekencang bang ruruwitan, alisku sarpa
mandi, kiwa tengen pisan, cupakku surya kembar,
kedepku pan kilat tatit, kang munggeng sirah, wesi
kekenten adi.
Rambut kawat sinomku pamor anglayap, batuk sela
cendani, kupingku salaka, pilingan ingsun gangsa,
irungku wesi duaji, pasu kulewang, pipiku wesi kuning.
Watu item lungguhe ing janggut ingwang, untuku rajeg
wesi, lidah wesi abang, aran wesi mangangkang, iduku
tawa sakalir, lambeku iya, sela matangkep kalih.
Guluku-ningsun paron wesi galigiran, jaja wesi sadacin,
pundak wesi akas, walikat wesi ambal, salangku wesi
walulin, bauku denda, sikutku pukul wesi.
Asta criga epek-epek ingsun cakra, cakar wok jempol
kalih, panuduh trisula, panunggulku musala, mamanisku
supit wesi, jentikku iya, ingaran pasopati.
Bebokongku sela ageng kumalasa, akawet wesi gilig,
ebol-ingsun karah, luput denda kang tinja, balubukan
entut mami, uyuhku wedang, dakarku purasani.
Jembut kawat gantungaku wesi mentah, walakang
wesi gapit, pupu kalataka, sungsum ingsun gagala,
ototku gungane wesi, ing dalamkan, ingaran kaos
wesi.
Sampun pepak sarira-ningsun sadaya, samya pangawak
wesi, pan ratuning braja, manjing aneng sarira, tan ana
braja ndatengi, dadya wiyana, ayu sarira mami.
Ana kidung sun-angidung bale anyar, tanpa galar asepi,
ninis samun samar, patining wuluh kembang, siwur
burut tanpa kancing, kayu trisula, gagarannya calimprit.
Sumur bandung sisirah talaga mancar, tibeng jaja ajail,
dinding endas parah, ulur-ulur liweran, tatambang
jaringing maling, dadal dadnya, gagulung ing gagapit.
Naga raja pangawasan manik kembang, kembang
gubel abaji, tajem neng kandutan, udune sarwi
nungsang, kurangsangan angutipil, angajak-ajak.”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s